Minggu, 26 Oktober 2008

Benar salah

Ya Alloh, tunjukkan kepada hamba dengan jelas, bhwa yang benar adalah benar, dan kuatkan iman hamba untuk mengikutinya...

Dan tunjukkan pula kepada hamba dengan jelas, bahwa yang salah adalah salah, dan kuatkan hati hamba untuk menghindarinya...

Ya Rabb, kepadaMu aku memohon, dan kepadaMu aku berserah diri...

-oase-

Bagai pelacur

Seorang wanita yang memakai wewangian lalu lewat diantara para laki-laki, dengan tujuan supaya mereka mencium bau wewangiannya dan tertarik padanya, tak ubahnya seperti seorang pelacur.

Bagi laki-laki?kayaknya sama aja.

Ingatkan diri sendiri dan orang2 yg kita sayangi, dengan cara-cara yang baik.
Jaga hati, jaga sikap.

-oase-

Syukur

Ya Alloh, terima kasih atas karunia dan ujian yang Engkau berikan....ikhlaskan, dan teguhkan hati ini dalam menghadapinya...bimbing hamba dalam menjalani kehidupan di dunia, agar tidak menjadi hambaMu yang lalai, yang lupa dari mana ia berasal, dan ke mana ia akan kembali...
Ya Alloh, ridhoilah hidupku...

-oase-

Belas Kasih

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Seorang penduduk desa datang pada Rasulullah lalu berkata: “Engkau mencium anak2, sungguh aku tak pernah mencium mereka”. Kemudian Nabi bersabda: “Tiada kuasa aku (menolong kamu) jika Alloh mencabut sifat belas kasih dari hatimu”. (HR. Bukhari, shohih)
Orang yang mengasihi saudaranya akan berusaha agar kehadirannya mampu mendatangkan kebaikan bagi saudaranya.
Layakkah orang yang membiarkan atau mengajarkan keburukan disebut saudara?

-oase-

CEWEK PERGI MA COWOK???

Idealnya sih, wanita jangan pernah bepergian dengan laki-laki non-muhrim tanpa didampingi temen wanita lain atau muhrimnya. Agama mengajarkan demikian untuk menjaga kehormatan si wanita dan laki-laki tersebut dari fitnah yang bisa timbul dari 3 (tiga) pihak, yaitu si wanita sendiri (deg2an, salah tingkah, ke-GR-an wah jangan2 masnya naksir, atau malah berpikir waw, masnya keren juga,hehe...astaghfirullah....), dari si laki-laki (deg2an juga, salah tingkah gara2 mbaknya keren top abiz,hehe....), dan dari orang lain yang tahu atau melihat (ssst...liat tuh, mereka berduaan, jangan2 pacaran...padahal yang satu jilbaban yang satu punya tampang orang alim lho, jangan2 dah nikah ya?...blablablabla...)

Menurut ke-sotoy-an, prinsipnya begini:


1. Sewaktu saya ngaji dulu (jelek2 gini pernah ngumpul ma orang2 shaleh...), saya diajari untuk tidak mendekati zina (deket aja nggak boleh apalagi nglakuin), salah satunya membatasi hubungan atau interaksi dengan lawan jenis (maksudnya cewek, bukan hewan, tumbuhan....). Batasannya yang gimana? wah, susah dijelaskan tapi sebenarnya semua orang “yang berakal dan mau berpikir” (raurusan ma yang clelekan...) pasti tahu gimana caranya berinteraksi dengan lawan jenis yang mendatangkan kemaslahatan bersama sesuai etika dan kaidah agama (ribet amat ngomongnya...simplenya saling menjaga kehormatan dari 3 sumber fitnah di atas...).

2. Dalam praktek di lapangan (koyo opo wae...), tidak mungkin semua yang kita temui selalu dalam kondisi ideal sesuai keinginan, ada kalanya kita terpaksa melakukan sesuatu karena keterbatasan yang kita miliki, dan keterbatasan tiap orang tu berbeda boz, jadi jangan digeneralisir...yang penting kita upayakan yang terbaik sesuai kemampuan kita, setelah itu masalah salah atau nggak ya tawakal ma Alloh Yang Maha Mengetahui, Dia lah yang berhak menilai....soal penilaian 3 sumber fitnah ya ikhlaskan aja, kita nggak berhak ngatur-ngatur apa yang dipikirkan orang, biarin aja....yang penting kita dah benar-benar berusaha....

Nah, sekarang juknis (petunjuk teknis) per-kasus-nya begini:
1. Cowok cewek bepergian cuma berdua? berusaha nyari korban untuk nemenin, lebih baik klo korbannya cewek yang udah baligh (klo korbannya balita sih sama aja, malah repot n bisa dikira bapak ibu dan anak....). Kasi pengertian pada sang korban.....Klo dah usaha tapi tetep aja nggak dapet?


  • ¨ Klo keperluannya bisa dikerjain sendiri ya suruh si cowok yang berangkat sendiri (cewek kadang2 g adilnya disini, emansipasi kok setengah2...hehe...piss...). Tapi klo yang punya perlu si cewek ya terpaksa si cewek berangkat sendiri....sekalian belajar jadi akhwat (baca: cewek) tangguh...smangat!!!

  • ¨ Klo emang gak bisa dihindari, contohnya pulang kampung, ceweknya g brani pulang sendiri dan sang ortu mewanti2 tuk cari barengan, sementara kebetulan ada barengan tapi seorang cowok (bentar, kayaknya aku pernah begini deh...hehe), ya pulang aja sana berdua, entar diatur dijalan....yang pernah saya alami, tempat duduk di kereta pesen yang sejajar tapi nggak bersebelahan misalnya nomor 7 A dan 7 C (Senja Utama mania pasti ngerti...), klo dah terlanjur beli yang berdampingan kan bisa nyari tukeran swaktu dah naik kereta.....selain masih bisa njagain, interaksi dalam perjalanan kan bisa terjaga (klo beda gerbong bisa juga, tapi agak gimana gitu, tapi ya terserah sih...). Klo masih terpaksa juga, misal g ada yang bisa diajak tukeran tempat duduk, ya kembali ke prinsip sotoy nomor 2.....

  • ¨ Contoh lain, misalnya masalah berboncengan sepeda motor (rekan-rekan saya semasa kuliah banyak yang ngalami nih, terutama kalau ada acara di daerah....), ya diusahain gimana caranya sesama kaum hawa di daerah saling pengertian soal ini, saling bantu agar saudari2nya bisa lebih nyaman ikut berbagai kegiatan...yang cowok juga, misal ada dua cowok masing2 bawa satu motor trus ada cewek yang harus dijemput, ya salah satu motor biar dipake si cewek, si cowok boncengan ma cowok satunya....Klo pada kondisi2 tertentu masih kepepet juga? ya boncengan aja sana, maw gimana lagi, kembali ke prinsip sotoy nomor 2...setelah semua usaha yang kita lakukan, hanya Alloh lah yang berhak menilai....


2. Seorang cowok bepergian diantara para cewek? klo bisa cari korban cowok satu lagi buat nemenin, klo emang dah g ada ya jaga jarak misal bawa kendaraan sendiri atau cari tempat duduk terpisah....tapi kasus ini jarang terjadi, ngapain juga ngajak satu cowok, ceweknya kan g seorang, harusnya g masalah bepergian tanpa kehadiran seorang cowok....tapi gpp sih, bwat bantuin angkat barang, hwehehe....maap, becanda...
3. Seorang cewek bepergian diantara para cowok? klo bisa cari korban cewek lain buat nemenin, klo g ada juga ya gimana lagi, usahakan jaga jarak...sama halnya seperti cowok yang bepergian diantara para cewek...

Nah, yang saya tulis di atas hanya bila kondisinya memang perlu bepergian, klo bepergian hanya untuk hal2 yang g penting atau g mendesak (peran kita bisa digantikan oleh rekan lain lawan jenis), ya nggak usah pake acara barengan, g usah ikut aja, demi kehormatan masing2....tapi menolaknya yang baik, untuk menjaga hubungan baik....ingat, ada masanya Al-Qur’an turun bertahap, ada masanya sholat belum diwajibkan, ada masanya juga hal yang haram ditetapkan bertahap, tapi tidak pernah ada masa dimana ukhuwah dikesampingkan....(wuih, sok banget, dah pantes ikut pildacil nih...)

Pertanyaan nyleneh:
Tanya:
“Heh, sok banget sih, emang klo cowok cewek pergi bareng tu bisa mengurangi kehormatan?”
Jawab: “Bukan begitu boz, cuma mengantisipasi aja, sumber fitnah kan ada 3, sementara kita juga g bisa ngatur pikiran orang...pandangan orang tu mau tidak mau juga akan jadi pertimbangan, kan g nyaman juga klo kena fitnah macam-macam... yang terpenting kita berusaha menjalankan perintah Alloh untuk saling menjaga diri, syaithon pinter banget loh boz, g ada salahnya mengambil langkah preventif selama masih bisa diupayakan, klo emang terpaksa kan juga gpp...toh bukannya tidak membolehkan, cuma ngasi batasan...”

Tanya: “Klo kegiatannya sih g penting2 amat, tapi saya pengin banget dateng, gmn?”
Jawab: “Ya terserah, atur aja, kan dah tau prinsipnya....Penting ato nggaknya sesuatu tu relatif, tiap orang bisa beda, yang penting bukan masalah pergi tidaknya, tapi bisa terhindar dari fitnah ato nggak...”

Uwis ah, capek, maw nulis yang lain, dah blank... yang saya tulis di atas cuma bahan pertimbangan aja, jangan jadi rujukan, g pantes... nulisnya juga cuma karena beberapa pertanyaan serupa, bahkan ada yang mpe minta dibuatin artikel, enak wae, padahal aku g bgitu paham soal sperti ini, jadi ya asal nulis aja...

Okey coy, smoga bermanfaat...

KEBENARAN ATAU PEMBENARAN

Sudah menjadi sifat manusia untuk membela diri. Sama seperti makhluk lain yang punya mekanisme pertahanan diri, manusia pun, sadar atau tidak, secara naluriah memiliki mekanisme serupa. Tapi celakanya, mekanisme tersebut juga berlaku saat manusia melakukan kesalahan, entah benar atau salah yang penting membela diri....gak mau dianggap salah....yah, kira-kira begitu....meski tidak selalu begitu....
Dienul Islam mengajarkan untuk muhasabah dan tawadhu’. Muhasabah artinya introspeksi diri, dimana manusia diajarkan untuk mengevaluasi diri sendiri, secara jujur menilai apapun yang telah dilakukannya sebagai sarana memperbaiki diri yang didasari oleh keyakinan bahwa kelak apapun yang dilakukan juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh SWT.....para ustadz menyebutnya dengan istilah “hisab (timbang) dirimu sendiri sebelum di hisab oleh Alloh”.
Tawadhu’ artinya rendah hati, dimana manusia diajarkan untuk memposisikan dirinya sendiri sebagai pemalu dihadapan Alloh, yang membuatnya enggan menyombongkan diri, enggan menganggap diri lebih baik dari orang lain, enggan dipuji atas segala kelebihan, dan enggan selalu berkeluh kesah atas segala kekurangan. Manusia diajarkan untuk menyadari bahwa Alloh Maha Mengetahui atas segala kekurangan dan kelemahannya hingga tak layak bila ia menyombongkan diri, dan Alloh pun Maha Berkehendak dengan memberi berbagai ujian untuk menilai kualitas ketaqwaan hambaNya, hingga tak layak bila ia selalu berkeluh kesah.
Minimnya kesadaran untuk bermuhasabah dan memupuk sikap tawadhu’ akan membuat manusia terlalu enggan mengakui kesalahan dan cenderung mencari-cari pembenaran untuk kepentingannya sendiri. Contoh sederhananya
“saat seorang anak yang sedang mengepel lantai meletakkan ember berisi air ditengah jalan, lalu tumpah terkena langkah kaki ayahnya yang tergesa-gesa, sang ayah menegur kenapa meletakkan ember ditengah jalan.....tapi ketika sang ayah yang mengepel lantai dan melakukan hal serupa, saat anaknya menumpahkan air dalam ember, sang ayah menegur kenapa jalan tidak hati-hati padahal tahu kalau ayahnya sedang mengepel lantai...”

Kadang...
Seorang istri tidak merasa bersalah saat menuntut terlalu banyak pada suaminya...ia anggap, sudah kewajiban suami untuk memenuhi kebutuhan istri....dan suami pun tidak merasa bersalah saat tidak menghargai jerih payah istrinya...ia anggap, sudah kewajiban istri untuk mengurus rumah....
Kadang...
Seorang guru/ustadz/atasan tidak mau menerima koreksi saat diingatkan murid/santri/bawahannya....ia anggap, wibawanya akan turun bila ia mengakuinya....
Kadang....
Seorang wanita tidak mau disalahkan saat memamerkan aurat bahkan menjual diri untuk mencari sesuap nasi...ia anggap, terserah dirinya maw berbuat apa untuk mengais rejeki, yang penting tidak merugikan orang lain...
Kadang...
Susah mengatakan yang benar adalah benar, dan yang salah adalah salah, apalagi klo ada kepentingan pribadi didalamnya....kebenaran pun sengaja dikaburkan, untuk sebuah pembenaran....

Walah, walah, mengakui kesalahan emang susah....apalagi berusaha memperbaiki.....

Rabu, 16 Juli 2008

IRONI SEBUAH SIMBOL

Shafar berlalu, Rabiul awal datang.......
Umat Islam pun bersiap, menanti datangnya hari itu,yah, maulid nabi. Ada yang biasa aja, ada yang memperingati dengan sederhana, bahkan ada yang sampai mengadakan acara besar-besaran, meski banyak pula yang masa bodoh, ndak ngerti, ato nggak tau sama sekali. Saya tidak akan membahas kemeriahan atau rupa-rupa acara yang diadakan untuk menyambutnya, namun lebih pada sisi falsafahnya, tentu saja semua dalam sudut pandang saya. Anda berhak setuju, mengoreksi, bahkan menegur bila ada yang tidak sesuai dengan yang anda pikir, asal jangan terlebih dulu merasa "benar", anggap saja kita sedang sharing....
Simbol
Seperti yang kita tahu, Maulid Nabi adalah hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Meski ada yang mengatakan ini hari istimewa, namun kita sangat dilarang untuk terlalu mensakralkan sebagaimana umat agama lain yang menjadikan hari kelahiran Nabinya sebagai hari raya yang diutamakan. Kenapa? Ya, beliau tetaplah manusia biasa. Yang penting adalah apa yang dia ajarkan bukan kapan dia lahir. Apalagi ada kekhawatiran adanya pemujaan yang berlebihan. Alasan serupa mengapa Rasulullah marah ketika ada shahabat yang mengatakan berani mati demi Rasulullah, padahal yang namanya jihad hanya demi Allah. Makam beliau pun di jaga agar tidak dijadikan "perantara" oleh orang-orang yang belum paham benar tentang Islam, tidak seperti budaya daerah kita yang demen nglalap berkah, kebodohan yang dipelihara. Islam tidak mengenal perantara ibadah antara hamba dan Rabb-nya. Kalaupun ada yang memperingati kelahiran beliau, oke lah, asal tidak berlebihan dan menimbulkan mudharat aja. Kehadiran Rasulullah adalah berkah yang luar biasa bagi umat manusia. Sebagai Rasul terakhir, beliau menyampaikan wahyu sebagai penyempurna Nabi dan Rasul sebelumnya. Boleh diartikan kehadirannya sebagai juru selamat dengan kepribadian yang luar biasa. Cocok benar dengan kondisi kita saat ini yang minim keteladanan.
Sebagai manusia biasa, kepribadian dan keteladanan beliau sangat manusiawi, dengan kata lain kita mampu meneladaninya. Shiddiq, amanah, fathonah, tabligh, itu bisa kita interprestasikan, pun sifat lain seperti lemah lembut tapi tegas, penyayang, pemurah, dan sifat baik lainnya. Bukankah sifat-sifat tersebut yang kini langka? Bukankah sosok ini yang diidamkan bangsa? Ya! Maka sah-sah saja kalau kita memperingati maulid nabi sebagai sarana mengingat kembali keteladanan beliau. Tentunya sebagai pemacu agar kita tergerak untuk meneladaninya sebagai upaya untuk menjadi bagian dari solusi kehidupan umat. Bukan sekedar ritual atau rutinitas belaka.
Ironi
Entah sudah berapa kali kita memperingati maulid Nabi, bahkan mungkin kita sampai hafal apa yang akan dikatakan penceramah saat pengajian-pengajian yang biasanya digelar. Atau, kita sampai hafal apa saja yang ada di sekaten. Namun anehnya hanya kesan ritual dan rutinitas yang kita dapat, bukannya introspeksi untuk meneladani Rasulullah...Ritual Rebopungkasan kadang masih berbau syirik, acara Sekaten malah diramaikan perjudian terselubung....Kalau dilihat dari sisi orang awam, maksud saya orang-orang yang tergolong obyek da'wah bukan subyek da'wah, tidak ada pemahaman yang memadai dalam memaknai maulid Nabi. Bagi mereka, termasuk saya dan mungkin anda, acara-acara yang diadakan tidak lebih sebagai ritual tahunan. Pengajian pun kalah tenar, kalaupun ada, peminatnya tak seramai acara-acara yang dikemas tradisianal dengan sisipan hiburan dan kepercayaan tentang nglalap berkah.
Entah salah siapa, orang-orang ngerti agama tapi gak aktif menda'wahkan, atau memang mereka yang belum paham bahwa hidayah perlu diupayakan? Atau mungkin terlanjur termakan paradigma salah tafsir tentang kata-kata "kita kan gak seperti Rasulullah?" Entahlah....Dari sisi orang-orang yang terpelajar,atau mungkin yang sedang belajar mendalami agama, mungkin agak mendingan. Ada nuansa muhasabah, atau paling tidak terbersit pikiran tentang perlunya meneladani beliau. Tapi ironinya, saya masih sering menemui keganjilan pada orang-orang ini. Masih saja banyak perbedaan furu' (kecil) yang dibesar-besarkan, bahkan cenderung mengelompokkan, terkesan Islam-nya "beda". Bukankah dalam diri Rasulullah sudah ada contoh bagaimana menyikapinya? Lucunya lagi ada orang yang ngotot merasa yakin benar, sampai mudah sekali mengkafirkan atau minimal terlalu mudah menyalahkan orang yang dianggapnya "lain". Yang salah ngeyel kalau nggak salah, yang benar jadi salah dalam menyampaikan. Memang Rasulullah bersikap demikian? Kalau orang2 terpelajar atau yang mendalami agama saja belum bisa (baca:belum mau) berusaha meneladani Rasulullah, bagaimana kita mengajarkan pada orang awam?
Rasulullah pernah berperan sebagai anak, remaja, pemuda, ayah, teman, suami, panglima perang, pebisnis, pemuka agama, dan pemimpin negara. Paling tidak ada banyak hal yang telah beliau contohkan untuk kita semua. Karena sifatnya manusiawi, kita pun mampu meneladaninya, meski tak sama, paling tidak kita telah berusaha mencontohnya. Yah, semoga kita bisa memaknai maulid Nabi dengan lebih bijak, sarana muhasabah tuk kembali berupaya meneladani Rasulullah. Yup, meski tak yakin bisa, setidaknya kita harus berusaha....

Kelalaian dalam do’a (bag.2)

”Terlalu menuntut, atau mengharuskan permintaannya dikabulkan.”

Boleh saja memohon sesuatu,tapi jangan lupa bahwa Alloh yg berhak menentukan. Ikhlaskan, Alloh pasti memberi ang terbaik untuk kita,meski tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Memohonlah, lalu ikhlaskan.

-oase-

Kelalaian dalam do’a (bag.1)

“Menggunakan bahasa arab, karena kebiasaan, tanpa mengerti makna do’a yg dibacanya.”

Sempatkan membaca dan memahami makna do’a-do’a yang sering qt baca, supaya tidak Cuma lisan, tapi hati qt juga ikut berdo’a…

-oase-

MENTAL SUPORTER

Bangsa Indonesia saya rasa kini cenderung bermental suporter. Banyak yang setia mendukung dan memberi semangat, namun segan (baca: tak mau) terjun langsung jadi aktor di lapangan. Ada saja alasannya, merasa tak berbakat, merasa belum mampu, merasa minder, atau bahkan merasa malas ambil peran karena sudah cukup nyaman dengan posisinya sebagai suporter. Ya, posisi dimana kita bebas berekspresi, ikut bangga kala sukses, ikut sedih bahkan mencerca kala sang aktor gagal. Suporter juga bebas berkomentar tanpa merasa punya tanggungjawab, meski mereka sadar itu kepentingan bersama.
Yup, ini bukan sekedar di dunia olahraga, mental suporter juga berlaku dalam praktek pemberantasan korupsi. Banyak orang jujur “terpaksa“ ikut jadi koruptor karena bingung harus bagaimana akibat tidak berani ambil sikap. Rakyat dipecundangi rame-rame, menghadapi korupsi seakan lebih berat ketimbang bagaimana pertanggungjawaban kita atas amanah bangsa. Alasan bingung, takut, minder, dan merasa tidak mampu sebenarnya sungguh memalukan bila terlontar dari mulut mantan mahasiswa yang sekolah dibiayai oleh keringat rakyat. Lebih tragis lagi bila justru nyaman terbawa arus budaya korupsi dan menganggap upaya pemberantasan korupsi bagai kisah heroik yang ada dalam dongeng, seakan tak akan terwujud.
Memang kita masih bersyukur punya banyak suporter, tapi itu tidak cukup. Ini bukan sepakbola atau basket yang jumlah pemainnya dibatasi. Kita semua bisa jadi aktor pemberantasan korupsi sesuai kapasitas masing-masing. Nggak perlu takut, jangan sampai berakhir sebagai penghianat amanah rakyat. Jangan menganggap kebahagiaan bisa dibeli dengan harta, kebahagiaan itu ada di hati, tinggal bagaimana kita memaknai hidup. LAWAN KORUPSI!!!

Tawadhu'

Tawadhu’ brarti rendah hati. Berlaku apa adanya, menghindari kbanggaan b’lebihan (sombong) atas diri sendiri, malu t’hadap pujian, dan enggan diistimewakan.
-oase-

Kalau Tidak Malu...

Kalau tidak malu berbuatlah sesuka hatimu…
Malu pada diri sendiri…
Malu pada orang lain…
Malu kepada 4WI…

Mungkin, inilah maksud bahwa “malu sebagian dari iman”…
Harusnya kita malu mengeluhkan kehidupan yg kita jalani dan melakukan hal2 yg diharamkan, karena itu menunjukkan betapa lemahnya qt t’hadap ujian 4WI…
Harusnya qt juga malu bila tidak pernah memohon ampun dan tidak berusaha menjadi lebih baik, padahal 4WI telah memberi qt kesempatan…

-oase-

Senin, 19 Mei 2008

Mukmin itu "kaya"...

Orang kaya bkn orang yg berlimpah harta,tp orang yg slalu mrasa cukup atas rahmat 4WI kepadanya.
Ia senantiasa bersyukur didalam kekurangan,tak segan berbagi dengan sesama,dan g akan menggunakan cara2 tercela untuk memenuhi kebutuhannya.
Kekurangan atau kelebihan nikmat dunia adalah jalan jihadnya.

-oase-

Review lagi...

Back to basic…
Awali perbuatan gdn bismillah,sbg wujud mengharap ridho atas apa yg qt lakukan.
Dan akhiri dgn mengucapkan Alhamdulillah,sebagai pengakuan bahwa apapun yg qt lalui adalah atas kehendak-Nya.

Kembali perbaiki akhlaq mulai dari hal2 kecil.
Tak ada keimanan tanpa akhlaq yang mulia,tak ada akhlaq mulia tanpa dimulai dari hal2 yg sederhana.

Mari belajar bersama.

-oase-

Review lagi...

Back to basic…
Awali perbuatan gdn bismillah,sbg wujud mengharap ridho atas apa yg qt lakukan.
Dan akhiri dgn mengucapkan Alhamdulillah,sebagai pengakuan bahwa apapun yg qt lalui adalah atas kehendak-Nya.

Kembali perbaiki akhlaq mulai dari hal2 kecil.
Tak ada keimanan tanpa akhlaq yang mulia,tak ada akhlaq mulia tanpa dimulai dari hal2 yg sederhana.

Mari belajar bersama.

-oase-

Tiada dusta diantara kita...(hueks..)

Rasulullah SAW. Pernah ditanya,”Apakah seorang mukmin bisa menjadi orang yg pengecut?” Beliau menjawab,”Ya.”
“Apakah seorang mukmin bisa menjadi orang yg kikir?” Beliau menjawab,”Ya.”
“Apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?” Beliau menjawab,”Tidak.”
(HR.Muslim)

Mukmin bukan pendusta.

-oase-

Nyunnah+tawadhu'=keren

Ma’mar b’kata,”aq mencela Ayyub karena pakaaiannya yg panjang(terjulur hingga di bawah mata kaki).”
Lalu ia b’kata,”Pada zaman dulu kesombongan t’dapat pada pakaian yg panjang.Namun sekarang kesombongan justru t’dapat pada pakaian yg disingsingkan.”
(alAtqiya’ alAkhfiya’)

Nyunnah tp sombong?na’udzubillah….

Nyunnah dan tawadhu’(rendah hati),nah,itu baru keren…

-oase-

Jumat, 25 April 2008

Tentukan Warnamu…

Entah pegawai di instansi pemerintahan yang sudah remunerasi atau belum, entah pegawai yang belum berpangkat atau sudah pejabat, pasti memiliki peluang untuk berlaku menyalahi aturan demi keuntungan pribadi….

Sewaktu masih muda, mungkin masih ada yang berwarna “putih”….wajar,masih “polos”….
Tapi seiring waktu, bukan tidak mungkin berubah warna….entah karena pengaruh lingkungan yang memiliki warna lebih dominan, atau memang dia sendiri yang enggan mempertahankan warna putihnya (barang kali di berpikir, abu-abu atau warna pelangi itu lebih keren….).
Bukan tidak mungkin pula ada orang “lama” yang merasa dirinya “abu-abu”, pelangi, atau hitam sekalipun, sudah jenuh dan capek dengan warna-warna itu dan ingin kembali ke warna putih yang dibawanya sewaktu lahir dulu (mungkin ingin matching dengan warna kain kafannya bila meninggal nanti….eh,tapi klo dia pengin kain kafannya nanti bukan putih, tapi berwarna merah? krem? batik? hmmm….).

Wahwahwah….klo anda pengen jadi warna apa?

Terserah sih, maw jadi warna apa aja juga boleh, asal bersedia menerima konsekuensinya aja….baik di dunia…maupun di akhirat nanti….

Jangan asal nuduh korupsi….

Diberbagai arena nongkrong bwat rakyat kecil seperti kita, sering dengan mudahnya para member tempat tongkrongan tersebut memberi label sarang korupsi bagi berbagai instansi atau lembaga pemerintah…mulai dari wakil rakyat di Senayan, pegawai-pegawai negeri kantoran, hingga aparat desa tingkat RT pun kena semprot….

Hmmm….mereka secara sadar atau tidak sering kali men-generalisir label tersebut (nggak jarang ngomongnya pake ngotot dan mimik wajah diserius-seriusin biar keliatan lebih meyakinkan,hehehe…).

Padahal itu kan ulah oknum, banyak juga yang nggak begitu kok….(cie…mbelain…)
Dan klo maw memperhatikan lebih lanjut, korupsi terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan,waspadalah!! (halah…jayus….)
Nah, kesempatan itu adalah kedudukan dan wewenang…..itu pokok masalahnya…
Mahasiswa berdemo soal korupsi? bagus itu, asal santun dan sesuai aturan….Tapi ingat, belum tentu klo kelak mahasiswa-mahasiswa itu jadi pejabat, mereka akan meneriakkan hal yang sama….bibit-bibit budaya “melanggar aturan untuk keuntungan pribadi” sudah tumbuh saat ada yang terbiasa menyontek sewaktu ujian….bibit-bibit budaya “merugikan keuangan Negara” pun sudah tumbuh saat ada diantara mereka yang sengaja nggak bayar tiket kereta api ato maen kucing-kucingan dengan kenek bus kota…

Pedagang kaki lima tanpa izin (satu kesatuan subjek nih…) bisa aja menjelek-jelekkan lembaga, instansi, atau oknum tertentu terkait dugaan (atau tuduhan) korupsi….mereka mudah mencela karena mereka tidak punya kedudukan dan wewenang yang sama dengan korban penuduhan tadi….belum tentu klo dikasi kedudukan dan wewenang yang sama mereka tidak korupsi….lha wong berjualan tanpa izin pun sebenarnya juga ada unsur korupsi, liat aja trotoar untuk pejalan kaki yang mereka pakai tuk mencari uang, itukan fasilitas umum, klo nggak bayar pajak atas izin usahanya ya sama aja korupsi kan?sama-sama merugikan Negara dan orang lain, serta menyalahi aturan demi keuntungan pribadi….

Eh,simpulannya apa?
Yup,
1. Jangan suka men-generalisir masalah, nggak semua aparat pemerintah bermental buruk seperti itu.
2. Boleh menyampaikan pendapat asal santun.
3. Jangan berlebihan dalam mengemukakan sesuatu, hal buruk sekalipun, dan jangan lupa introspeksi diri.
4. Pelajar dan mahasiswa jangan suka nyontek.
5. Pengguna angkutan umum harap menunaikan kewajibannya bayar ongkos atau tiket, daripada utangnya di tagih di akhirat.
6. Pedagang kaki lima yang belum minta izin ke aparat terkait, segera minta izin ya,jangan gunakan alasan ekonomi untuk menghalalkan segala cara. Bukankah itu juga ujian hidup yang harus disikapi dengan baik?

Tinjauan hukum uang aneh

Sudah rahasia umum kalau di instansi atau lembaga pemerintahan serta organisasi-organisasi yang dibiayai Negara, ada kemungkinan terjadi korupsi, entah kaitannya dengan intern maupun ekster. Tapi kan nggak semua gitu, makanya yang dibahas di bawah ini adalah kondisi ketika ada unsur korupsi atau aliran uang syubhat (meragukan) aja…

Hukum secara garis besar telah mengatur apa saja yang boleh diterima dan apa yang tidak boleh diterima, bahkan dalam kode etik instansi masing-masing pun, seharusnya, telah dijelaskan. Tapi terkadang aturan teoritis tersebut susah diterapkan di lapangan terkait pertimbangan subjektif setiap orang yang merasa tidak dimungkinkannya untuk berlaku reaktif. Tidak jarang, sebagian orang merasa tidak bisa mengelak untuk menerima uang tersebut.

Ditinjau dari segi hukum, ketika kita menerima uang atau barang yang tidak semestinya kita terima, itu sudah termasuk delik, apapun alasannya (mmm….delik itu perkara yang memiliki dampak hukum, atau sejenisnya lah, aq lupa pengertian pastinya...). Dengan menerimanya, berarti segala resiko yang melekat pada uang atau barang tersebut juga kita terima.
Untuk masalah penyaluran uang atau barang yang kita anggap atau kita yakini bukan hak kita, memang secara hukum tidak diatur secara khusus. Mau di kembalikan ke kas Negara, disumbangkan ke aktivitas sosial, maupun aktivitas keagamaan, teuteup saja tidak menghilangkan delik-nya. Ya karena itu tadi, klo sudah “menerima” ya tetep salah di mata hukum, meski dimungkinkan adanya pembelaan terkait alasan-alasan subjektif yang mendasari kenapa kita bisa menerima dan ke mana kita menyalurkan dana tersebut (biar lebih ringkas, anggap saja semua dalam bentuk uang, klo ada yang dalam bentuk barang ya tinggal dikonversi dalam nilai uang).

Kemanapun penyalurannya, sebaiknya harus jelas dan ada buktinya. Dan yang lebih aman memang ke kas Negara karena setidaknya sudah mengurangi salah satu unsur korupsi, yaitu merugikan keuangan Negara untuk kepentingan pribadi (kan uangnya dah kita balikin), sehingga bisa meminimalkan sanksi hukum, bahkan mungkin terbebas dari masalah hukum. Namun ingat, ada yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Untuk yang sudah jelas “kadar” haramnya, sebaiknya tolak sejak awal, tunjukkan bahwa kita tidak akan pernah setuju dengan cara-cara seperti itu, tentunya dengan cara yang baik untuk menjaga keharmonisan dengan “lingkungan”. Namun seandainya merasa tidak berani menolak, atau unsur keterpaksaan lain, ya salurkan aja seperti pembahasan diatas.

2. Untuk yang masih meragukan, sebaiknya tanyakan lebih lanjut asal-usul dan alasan kenapa bisa diserahkan ke kita. Sapa tau itu memang halal, baik dari segi hukum maupun etika, contohnya rekan-rekan seruangan rela honor dari surat tugas mereka di potong untuk rekan-rekan lainnya yang ikut kerja namun tidak masuk dalam surat tugas tersebut. Kalau masalh uang syubhat memang mengandalkan pertimbangan subjektif, dan sangat pada tergantung “warna” kita. Klo yakin halal kan bisa menenteramkan hati, tapi klo benar-benar tidak yakin keabsahannya, ya salurkan aja.

Pertanyaan-pertanyaan NYELENEH…..

1. Kalau saya terpaksa menerima tapi tidak saya salurkan, gimana?
Jawab: Itu sih malu-malu mau….dari segi hukum jelas salah dan tidak ada unsur yang memungkinkan pembelaan….dari segi agama apalagi….meski kepastian dosa atau tidaknya adalah wewenang Allah SWT, tapi sebagai manusia yang diberi akal untuk memahami “ayat-ayat cinta”-Nya, kita bisa nebak klo itu dosa. Hukum Negara bisa diakalin, tapi hukum Allah SWT???

2. Kalau saya salurkan tapi cuma sebagian, gimana?
Jawab: Itu mah sami wawon, padha bae…..sama dengan yang nomor satu tuh…..ini nanya untuk cari kebenaran, atau cuma mau nyari pembenaran???

3. Bagaimana bila pengembalian ke kas Negara dilakukan setelah kasusnya mencuat? Kabarnya aparat hukum pun tidak mempermasalahkan ketika beberapa pejabat melakukannya? Gimana tuh?
Jawab: Aneh memang, dan rasanya harus ditinjau kembali. Coba pikir, baru mengembalikan bila sudah jadi kasus, nah, kalau belum jadi kasus apa juga dikembalikan? Seharusnya yang seperti itu juga nggak bener….

4. Kadang kita kan nggak enak menolaknya, bahkan bisa dianggap menghina yang memberi….truz gimana?
Jawab: Untuk uang syubhat, seperti pembahasan diatas. Untuk yang jelas nggak bener ya ditolak aja semampunya dengan cara-cara yang santun, minta mereka juga menghargai prinsip kita, daripada kita harus mempertanggungjawabkan uang itu di dunia dan di akherat??? Pokoknya semua langkah pasti ada resikonya.

5. Apa kita harus melaporkan hal-hal seperti ini ke pihak yang berwenang? Ntar resikonya gimana?
Jawab: Itu sih tergantung pertimbangan subjektif masing-masing, kalau berani dan dirasa memungkinkan ya laporkan saja, masalah nanti dimusuhi atau dianggap cari muka ya itu memang resikonya. Kalau tidak berani atau tidak memungkinkan melapor ya sudah, yang penting keukeuh dengan prinsip pribadi, sembari melakukan langkah-langkah preventif. Pihak yang mengalami sendiri tentu lebih mengerti kondisi dan tahu jalan mana yang sebaiknya ditempuh.

6. Ada nggak landasan hukum yang mengatur mengenai “terpaksa menerima” dan penyalurannya?
Jawab: Nggak ada, hukum cuma mengatur kalau menerima itu nggak bener, apapun alasannya. Seandainya ada orang “bersih” yang ingin menyalurkan uang itu kembali, ke kas Negara sekalipun, tetap tidak menghilangkan delik akibat “menerima” tadi. Meskipun demikian, unsur terpaksa dan penyaluran yang jelas bisa dijadikan pembelaan bila kelak hal tersebut menjadi kasus. Orang berniat baik pasti dihargai. Tapi jangan salah, dunia peradilan tidak sesederhana itu, banyak juga orang “baik” yang jadi korban. Belum tentu yang sekarang dipenjarakan itu adalah orang yang benar-benar bersalah, makanya hati-hati dengan menolak sejak awal atau memiliki cara penyaluran kembali yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalau sudah begitu tapi masih tetap dianggap bersalah oleh hukum, ya sudah, itu musibah di dunia, yang penting Allah SWT Maha Mengetahui….

7. Kalau setor ke kas Negara, pasti aman ya?
Jawab: Seperti yang kita bahas diatas, tetap tidak menghilangkan delik-nya. Tapi biasanya hakim akan memiliki pertimbangan berbeda, dan memungkinkan adanya keringanan bahkan pembebasan dari konsekuensi hukum.

8. Sewaktu setor kan ngisi formulir tuh, nah, nanti dari daftar penyetor kas Negara bisa ketahuan instansi atau lembaganya dong, ntar malah dianggap mencemarkan nama instansi atau lembaga karena memberi indikasi penyimpangan. Enaknya gimana?
Jawab: Sebenarnya nggak apa-apa kalau kejadiannya begitu, bisa dianggap melapor secara “halus”. Tapi kalau tidak ingin membawa-bawa nama instansi atau lembaga ya mudah saja, gunakan transfer melalui rekening pribadi yang tidak “mengarahkan” atau tidak mengisi secara detail formulir yang disediakan. Yang penting jangan sampai gara-gara sedikit menyamarkan identitas malah mengaburkan bukti bahwa kita yang setor, kalau ternyata jadi kasus beneran dan kita tidak bisa membuktikan kan malah gawat….

9. Kalau penyalurannya ke lembaga sosial atau keagamaan?
Jawab: Silakan aja, asal bisa mempertanggungjawabkan, hal tersebut juga bisa menjadi unsur pertimbangan yang meringankan. Tapi, penyaluran diluar kas Negara tidak bisa disebut “mengembalikan kerugian Negara” karena uangnya memang tidak kembali ke Negara, sehingga efek “meringankannya” tidak sama dengan penyetoran ke kas Negara. Yah, sekali lagi, setiap langkah ada resikonya.

Nah, hal-hal diatas adalah pengembangan (belum semua sih, disinggung di bagian lain aja) dari hasil konsultasi dengan Bapak Hening Tyastanto yang merupakan Kepala Direktorat Konsultasi Hukum dan Kepaniteraan Kerugian Negara di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (maaf kalau salah nyebut nama jabatan). Ingat, sekali lagi ini adalah pengembangan hasil konsultasi, jadi baik bahasan maupun bagian tanya jawab bukanlah ”rekaman” pembicaraan, melainkan pokok pembicaraan yang di susun ulang agar lebih mudah di mengerti (maklum, ribet banget kalau sudah berurusan dengan hukum, harus hati-hati ngomong....lha wong setelah menyampaikan surat permohonan aja staf beliau mengatakan bahwa itu sudah sebagai pengakuan di mata hukum, walah...langsung panas dingin, deg2an juga....hehe....).
Kenapa tanya ke BPK? Ya iyalah, BPK kan Pemeriksa Keuangan Negara, tentunya sangat tepat bila dimintai arahan terkait permasalahan ini. Kalau belum puas, sampaikan aja, nanti kita sama-sama belajar lebih banyak lagi.....

Oukey, pembahasan ini focus pada aspek hukum atas uang yang kita rasa bukan hak kita namun secara terpaksa kita terima...klo dari aspek agama jelas, nggak perlu diperdebatkan, Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Adil dalam menilai hamba-Nya…Yah, semoga setiap langkah kita senantiasa terhindar dari kehinaan amalan...amin…